Minggu, 05 September 2010

tugas bahasa arab

BAHASA ARAB

Penemuan Tanda Diakritikal

Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tashkil yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaika melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar Al­Qur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.

Ad-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mesti­nya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanween (dua dammah), Fathah tanween, atau kasrah tanween sebagaimana mestinya (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H. / 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah Mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M.


Gambar 10.6: Contoh Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi, memuat kerangka tanda titik ad­ Du’ali. Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.

Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari ad-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laithi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu. Beberapa abad kemudian skim kerangka al­ Fraheedi menggantikan sistem sebelumnya.

Setiap pusat (kota) kelihatannya pada awalnya mempraktikkan kaidah yang berlainan. Ibn Ushta melaporkan bahwa Mushaf Isma’il al-Qust, Imam Mekah (100-170 H. / 718-186 M.) memakai sistem tanda titik yang tidak sama dengan Mushaf yang digunakan oleh orang Irak, sedangkan ad-Dani men­catat bahwa ilmuwan San’a’ mengikuti kerangka lain. Sama juga, bentuk atau contoh yang digunakan orang Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh orang Basra; pada ujung abad pertama hijrah bagaimanapun, kaidah orang Basra semakin meluas sehingga orang-orang Madinah pun mengadopsinya. Perkembangan berikutnya mulai memperkenalkan tanda titik warna-warni, setiap tanda diakritikal telah diberi warna yang berbeda.

Sumber:Penggunaan Tanda Titik (Nuqat) dan tanda baca dalam Mushaf Al-Qur’an Zaman Dulu « Khotib.mht

ANIS MAULIDA DYAH AYU PUTRI

XII IPA 2/06

Tidak ada komentar: