Selasa, 28 September 2010
ilmu dhoruri dan muktasab
Ilmu Dloruri ialah…
Ilmu yang tidak melalui proses pemikiran (kajian) & pembuktian ataupun penggunaan dalil. Sebagaimana ilmu/pengetahuan tentang sesuatu yang didapat dari salah satu pancaindera, yaitu indera penglihat, indera pendengar, indera peraba, indera pengecap, dan indera pembau atau bias juga disebut sebagai berita yang mutawattir.
Mutawattir: sambung menyambung dan diriwayatkan banyak orang.
ILMU MUHTASAB
yaitu: ilmu yang sudah baku hukumnya. asal kata: hasaba
contoh kasus: qishaash.
Dalil naqli: Al An’am.
Yaitu….
Pengetahuan tentang sesuatu yang didapat atau dihasilkan melalui proses pemikiran (kajian) dan pembuktian/penggunaan dalil. Seperti, pengetahuan bahwa alam ini adalah baru . Pengetahuan ini didasarkan atas pemikiran/kajian terhadap alam dan hal-hal yang dikajikan di alam ini, berupa pergantian & perubahan.
Seperti:
- pergantian malam dengan siang
- pergantian gelap dengan terang
- pergantian gerak dengan diam
Dari perubahan dan pergantian di alam ini, kemudian diputuskan bahwa alam ini baru.
by: http://hilmazarina.blogspot.com
http://shoufipd.blogspot.com/2010/08/pengertian-serat-contoh-dari-ilmu.html
Minggu, 05 September 2010
tulisan arab
بَعْدَ صَلَا ةِ الصُّبْحِ تَطْبَخُ الأُ مُّ فِيْ المَطْبَخِ . وَهِىَ تُرِىْدُ اَنْ تَطْبَخَ الرُّزَّ ثُمَّ تَقْلِيْ السَّمَكَ . تَأ خُذُ الأُمُّ ا لكَا نُوْنَ وَالصَّاجَ وَا لمِقْلَبَةَ وَالكَبْشَةَ وَالزَّ ىْتَ وَالقِدْ رَ . وَفِىْ السَّاعَةِ الخَا مِسَةِ وَالنِّصْفِ قَدْ نَضِجَ الرُّزَّ وَالسَّمَكَ ثُمَّ نَأكُلُ مَعًا فِىْ حُجْرَةِ الأَكْلِ
tugas bahasa arab
BAHASA ARAB
Penemuan Tanda Diakritikal
Sebagaimana tersebut di atas bahwa tanda diakritikal ini dalam Bahasa Arab disebut tashkil yang dibuat oleh Abu al-Aswad ad-Du’ali (w. 69 H./ 688 M.). Ibn Abi Mulaika melaporkan bahwa pada zaman pemerintahan `Umar, seorang Badui datang meminta seorang guru untuk membantu belajar AlQur’an. Seseorang mengajar sukarela (volunteer), tetapi kemudian melakukan kesalahan ketika mengajar yang menyebabkan ‘Umar memberhentikannya, membetulkan, dan kemudian menyuruh agar yang mengajar Al-Qur’an hanya orang yang mapan Bahasa Arabnya. Dengan kejadian itu ‘Umar tidak lagi bimbang dan kemudian minta Abu al-Aswad Du’ali untuk mengarang sebuah risalah tentang tata Bahasa Arab.
Ad-Du’ali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang akan diletakkan pada ujung huruf tiap kata. Ini berbentuk titik-titik merah (untuk membedakannya dari kerangka tanda titik yang berwarna hitam), dengan setiap posisi titik memberikan arti pada tanda tertentu. Satu titik terletak sesudahnya, di atas, atau di bawah huruf menjadikan masing-masing dammah, Fathah, atau kasrah sebagaimana mestinya. Demikian halnya dengan titik yang terletak setelah, di atas atau di bawah huruf berbentuk dammah Tanween (dua dammah), Fathah tanween, atau kasrah tanween sebagaimana mestinya (sinopsis ini sedikit kelihatan adil pada ketentuan sebenarnya dan agak jelas). Pada zaman pemerintahan Mu’awiyah (w. 60 H. / 679 M.), dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah Mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada tahun 50 H. / 670 M.
Gambar 10.6: Contoh Mushaf yang ditulis dalam skrip Kufi, memuat kerangka tanda titik ad Du’ali. Jasa baik dari Museum Arsip Nasional Yaman.
Skim (kerangka) ini kemudian diturunkan dari ad-Du’ali ke generasi penerusnya melalui usaha Yahya bin Ya’mar (w. 90 H./ 708 M.), Nasr bin `Asim al-Laithi (w. 100 H./718 M) dan Maimun al-Aqran, sampai kepada Khalil bin Ahmad al-Fraheedi (w. 170 H. / 186 M.) yang akhirnya mengubah corak (pattern) ini dengan menggantikan tanda titik merah berbentuk menyerupai karakter tertentu. Beberapa abad kemudian skim kerangka al Fraheedi menggantikan sistem sebelumnya.
Setiap pusat (
Sumber:Penggunaan Tanda Titik (Nuqat) dan tanda baca dalam Mushaf Al-Qur’an Zaman Dulu « Khotib.mht
ANIS MAULIDA DYAH AYU PUTRI
XII IPA 2/06